The International Organization of Folk Art (IOV) is a non-governmental organization in operational relations with the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Had been released on March 1. IOV Indonesia Youth section had been officially become the member of IOV International, and will become the place for youth to share their idea about art, tradition and cultural heritage.
IOV Indonesia Youth Section
We travel around the globe spread the beauty of equator emerald
Selasa, 07 Oktober 2014
KOMUNITAS TARI FISIP UNIVERSITAS INDONESIA "RADHA SARISHA" di AMERIKA
Festival pertama yang diikuti oleh Tim KTF UI Radha Sarisha yaitu Springville World Folkfest 2014 dimulai sejak tanggal 28 Juli 2014. Hari pertama festival bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1435H, sehingga sekitar jam 7 pagi tim menunaikan ibadah shalat Ied sebelum melaksanakan jadwal latihan pertama. Springville World Folkfest 2014 diadakan pada tanggal 28 Juli—3 Agustus 2014 di Springville Art Park dengan panggung terbuka yang dilatarbelakangi pegunungan. Selain tim KTF UI Radha Sarisha dari Indonesia, peserta festival lainnya berasal dari Belgia, Perancis, Polynesia, Australia, Bangladesh, Lithuania, Taiwan, dan Amerika Serikat. Sepanjang festival, tim dari setiap negara mendapatkan waktu penampilan selama maksimal 10 menit. Festival dimulai jam 5 sore setiap harinya. Pada salah satu hari festival, tim KTF UI Radha Sarisha diminta untuk mengajar Tari Saman di kelas Folk Dance Brigham Young University (BYU) di Provo. Tim KTF UI Radha Sarisha selalu mendapat sambutan dan apresiasi meriah disetiap penampilan kami, baik di panggung maupun di universitas.
Festival kedua yang diikuti oleh Tim KTF UI Radha Sarisha adalah Summerfest Dance Festival 2014 di kota Bountiful, Utah. Festival diadakan pada tanggal 4 Agustus—10 Agustus di Bountiful City Park. Selain tim KTF UI Radha Sarisha dari Indonesia, peserta festival lainnya adalah sebagian teman-teman dari festival sebelumnya yaitu Bangladesh, Lithuania, Taiwan, dan Amerika Serikat. Setiap harinya, setiap tim dijadwalkan pada penampilan siang dan malam hari dengan durasi masing-masing penampilan selama 30 menit. Selain panggung besar untuk tarian, festival juga menyediakan panggung yang lebih kecil untuk penampilan musik. Setiap penampilan kami setiap harinya, tim KTF UI Radha Sarisha selalu mendapat tepukan meriah dan standing ovation. Disela-sela waktu penampilan, kami dapat beristirahat atau berjalan-jalan bersama host families. Kota Bountiful dapat dikatakan sebagai kota kecil yang sangat indah dan damai karena disana hanya ada perumahan tanpa gedung tinggi dan tidak dijumpai kemacetan di jalanan.
Festival ketiga yang diikuti oleh Tim KTF UI Radha Sarisha adalah International Days 2014 di kota South Jordan, Utah. Festival diadakan pada tanggal 11 Agustus—17 Agustus 2014. Festival terakhir ini berbeda dengan festival-festival sebelumnya karena panggung pertunjukkan selalu mengambil tempat berbeda setiap harinya, seperti di High School, Middle High School, atau di Pusat Kegiatan Kota. Selain itu, setiap pagi tim KTF UI Radha Sarisha juga selalu mendapat jadwal untuk mengajar tarian di sekolah dasar. Selama workshop di sekolah dasar, secara bergantian tim mengajar Tari Saman dan Tari Gaba-gaba atas permintaan pihak sekolah karena tarian tersebut adalah tari favorit anak-anak. Setelah workshop dipagi hari, tim mengisi penampilan dipanggung utama hampir setiap malam. Di festival terakhir ini, peserta internasional hanyalah tim KTF UI Radha Sarisha dari Indonesia dan tim dari Bangladesh. Pada salah satu hari, tim KTF UI Radha Sarisha mendapat kesempatan untuk menjadi penampil tunggal di International Days 2014 dengan waktu penampilan sepanjang 75 menit. Festival ketiga ini menjadi festival penutup yang menyenangkan karena penampilan tim KTF UI Radha Sarisha selalu ditunggu-tunggu dan mendapat sambutan meriah dari penonton. Selain itu, hal lain yang membedakan festival terakhir ini dari festival sebelumnya adalah adanya Liaison Officer sekaligus Guide dari San Fransisco University yang merupakan mahasiswa/i dengan usia sebaya dengan kami.
T-ta Paramadina Mewakili Indonesia Mengikuti The International Youth Dance Festival 2014


Sebagai bentuk konsistensi kecintaan kami pada budaya Indonesia, pada tahun 2014 ini T-ta Paramadina kembali berkesempatan mengemban misi kebudayaan ke Macau. IOV Indonesia Youth Section telah mempercayakan T-ta Paramadina untuk mengikuti festival bergengsi yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali ini. Dalam festival ini, T-ta Paramadina mempersiapkan 5 buah tarian yaitu Tari Betawi Kembang Rumpi, Tari Piring Indang, Tari Zapin Langkak Pesisir, Tari Papua Mambri, dan Tari Saman. Dihelat oleh DSEJ Macau Education and Youth Affairs Bureau, event ini mengundang 20 negara dari berbagai belahan dunia. Negara-negara yang mendapat undangan yakni Australia, New Zealand, Turki, Finlandia, Yunani, China, Madagaskar, USA, Sri Lanka, Singapura, Hong Kong, Korea, Belgia, Russia, Macau, serta Indonesia. Treatment yang baik dari pihak festival kepada peserta, fasilitas yang serba lengkap, pengaturan jadwal kegiatan yang baik, membuat festival ini sukses dalam memberikan kesan yang baik kepada seluruh peserta festival.
Menjadi pengalaman baru bagi T-ta karena ini adalah festival pertama di Asia yang kami ikuti dan dengan jumlah peserta negara terbanyak. Sebelumnya, T-ta sudah berkesempatan melaksanakan misi budaya ke negara-negara di Eropa. Kemiripan rumpun dengan beberapa negara di Asia menjadikan ini sebagai tantangan baru, agar kami tetap mempertahankan kualitas kepenarian dan ciri khas kami di tengah corak negara Asia lain yang identik dengan kostum berwarna cerah serta kepenarian yang sangat baik. Satu hal yang sangat membuat kami bangga yaitu karena festival ini telah lama dinanti oleh Indonesia dan merupakan suatu kebanggaan bagi T-ta Paramadina ketika dipercaya dan ditunjuk oleh IOV Indonesia Youth Section sebagai tim pertama dari Indonesia yang dapat mengikuti festival ini.
Bagi kami, misi budaya adalah sesuatu hal yang tidak bisa terbayar oleh apapun, karena ini bukan sekedar berkunjung ke suatu negara. Kami mengemban suatu misi membawa nama budaya Indonesia untuk kami perkenalkan kepada dunia. Suka dan duka banyak kami lalui selama persiapan menuju Misi Budaya. Melalui proses latihan rutin yang berat dan panjang, fund-raising (penggalangan dana), serta pencarian sponsor kami lakukan demi tercapainya cita-cita misi budaya ini. Banyak sekali pengalaman berharga tak terlupakan yang kami dapatkan selama disana. Salah satu hal menarik yang kami alami adalah waktu festival di Macau yang bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Kondisi ini membuat tim kami semakin solid, karena kami harus tetap menjaga ibadah puasa sambil menjalankan aktivitas yang padat. Jadwal piket sahur pun kami bentuk, agar bisa saling membangunkan satu sama lain di waktu sahur agar tetap dapat menjalankan ibadah puasa di keesokan harinya. Mempersiapkan makanan sahur dan berbuka puasa juga kami lakukan bersama dalam tim, sesuai dengan pembagian tugas. Meskipun tidak bisa melaksanakan ibadah solat tarawih tiap malamnya, namun kami tetap merasakan suasana Ramadhan karena kami sudah sangat dekat selayaknya keluarga kedua. Keikutsertaan pembina dari IOV, Andris Adhitra pada misi budaya T-ta Paramadina kali ini juga sangat membantu dan membimbing kami langsung selama mengikuti festival di Macau untuk dapat menjadi tim yang lebih solid dan cekatan lagi.
Selain bertukar cerita satu sama lain dengan peserta dari negara lain, kami juga saling bertukar souvenir dengan teman-teman baru kami. Pada saat itu tentunya kami mempromosikan Indonesia sebagai negara yang sangat indah dan memiliki budaya yang beragam. Hingga saat ini, tidak sedikit dari kami yang masih saling berkomunikasi dengan teman-teman dari belahan dunia lain melalui situs jejaring sosial. Ratusan bahkan ribuan kata bahkan tidak bisa menjabarkan betapa bangganya kami bisa mewakili Indonesia untuk berpartisipasi mewakili Indonesia di salah satu festival yang luar biasa bersama IOV Indonesia Youth Section. Namun satu hal yang akan tetap kami yakini adalah we believe everything that comes from the heart, will touch the heart. That’s why we always dance from the heart.
Dimana pun T-ta Paramadina menari, pasti akan selalu menari dari hati.
We’re not professional dancers, but we dance like professionals
Selasa, 13 Mei 2014
SD ISLAM AL IKHLAS memenangi Noble Music Performance for 10th Soverignity Fest Folk Competition
WARTA KOTA, BEKASI - Sebanyak 12 siswa SD Islam Al-Ikhlas, Jalan Cipete III Nomor 3 Cilandak, Jakarta Selatan memenangi salah satu lomba dalam festival seni kebudayaan tradisional yang digelar di Turki, Senin (21/4) hingga Jumat (25/4) lalu. Siswa-siswa perwakilan Indonesia itu memenangi Noble Music Performance for 10th Soverignity Fest Folk Competition, yang digelar di Ataturk Indoor Stadium, Sakarya, sekitar 140 kilometer dari Istambul, Turki.

"Bangga sekali anak bisa ikut festival tingkat internasional. Ini pengalaman bagi anak saya, pengalaman ini nggak kebeli," tutur Ardhina Maharani (35), salah satu orangtua siswa. Arsyela Thalia Faradila, anak keduanya yang baru berusia delapan tahun, menjadi salah satu rombongan siswa yang memenangi festival kebudayaan tradisional itu.
Ardhina tidak menyertai kepergian Arsyela ke Turki. Dia hanya menyambut kedatangan anak perempuannya itu di pintu kedatangan luar negeri, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Senin (28/4). "Saya percaya anak saya bisa mandiri, toh ada guru pendamping. Festival ini akan membangun wawasan dia, bagaimana berjuang membawa nama negara," imbuhnya tak bisa menyembunyikan kebahagian saat menyambut kedatangan anaknya itu.
Arsyela Thalia Faradila mengaku telah berlatih memainkan alat musik angklung selama sebulan penuh sebelum rombongan berangkat ke Turki pada Sabtu (19/4). "Saya pegang angklung nada sol, disana kami memainkan dua lagu, I Have a Dream, dan Burung Kakatua," tutur Arsyela Thalia, di Bandara Soekarno-Hatta.
Andris Adhitra, Ketua Rombongan mengatakan bahwa selain memainkan dua lagu itu menggunakan angklung, mereka juga membawakan tari giring-giring, dan tari piring. "Persaingan lumayan ketat, karena ada sepuluh negara yang terlibat dalam festival internasional ini," tuturnya, Senin (28/4). Kesepuluh negara peserta festival itu adalah Albania, Bosnia, Kataristan (negara pecahan Rusia), Rumania, Estonia, Bulgaria, Ukraina, Indonesia, Azerbaijan, dan tuan rumah Turki. Hendri Wardi, Wakil Kepala Sekolah SDI Al Ikhlas mengatakan bahwa keikutsertaan siswa sekolah itu dalam festival internasional merupakan program rutin.
"Program kami, dua tahun sekali mengirimkan siswa ke luar negeri untuk mengemban misi kebudayaan Indonesia," tuturnya. Dua tahun lalu, kata dia, sebanyak 27 siswa ikut serta dalam festival serupa di Jerman. Dua tahun sebelum pengiriman perwakilan ke Jerman, juga ada 25 siswa yang mengikuti festival serupa di Turki. "Sebelumnya kami adakan seleksi, dari situ keliahatan mana anak yang bisa mandiri dan yang tidak. Anak-anak kami siapkan mentalnya sebelum berangkat," ujarnya.
Saat ini, jumlah siswa SDI Al Ikhlas seluruhnya sebanyak 908 siswa dari kelas 1-6. Masing-masing kelas terbagi dalam lima rombongan belajar, satu rombongan belajar terdiri atas 30-32 siswa.

Selasa, 10 Desember 2013
IOV Undang SDN "Obama" Mentas di Filipina
IOV Undang SDN "Obama" Mentas di Filipina
Selasa, 26 November 2013 19:51
JAKARTA- International Organisation Volkenfurst (IOV), sebuah lembaga kebudayaan dibawah naungan UNESCO mengundang SDN Menteng 01 atau yang biasa dikenal dengan sekolah Obama, untuk mengikuti International Folklore Festival di Tarlac City, Manila, Filipina pada 30 November hingga 9 Desember 2013 mendatang.
Kepala Sekolah SDN Menteng 01, Ahmad Solihin mengatakan, sebanyak 28 siswa sekolah tersebut akan ambil bagian dalam acara yang dilakukan dalam misi memperkenalkan budaya Indonesia ke Luar negeri itu.
"SDN menteng sangat bangga bisa dipilih untuk berangkat ke acara tersebut," ungkap dia di sekolahnya, Jakarta, Rabu (26/11/2013).
Pihak SDN Menteng 01, lanjut dia, akan mengawali acara dengan melakukan audiensi oleh Dubes KBRI, Manila dan dilanjutkan audiensi di De La Sale University Manila.
"Pada hari kedua hingga delapan kita akan berangkat ke Tarlac kurang lebih 4 jam," jelas dia.
Adapun rangkaian acara International Folklore Festival tersebut antara lain, Workshop, Pentas di beberapa tempat yaitu, public park, university, public school, goverment, costume parade, Culture exchange, pertunjukan Tarian tradisional.
"Tarian yang akan ditampilkan, Tari Tempurung, Tari Giring-giring, Tari Rampak Kipas, Tari Saman," papar dia.
Selain itu, pada acara penutup yang juga dihadiri oleh Duta Besar Indonesia untuk Filipina, atase Kebudayaan Kedubes Filipina, Kasudin Dikdas Jakarta Pusat, Kepala Bidang SD, PLB Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Komite Sekolah dan para sponsor.
"Kita juga melakukan kegiatan charity sebesar 30 juta rupiah dan lelang lima lukisan anak yang terjual total 80 juta rupiah. diserahkan ke pemerintah Filipina melalui Dubes untuk korban topan Haiyan," pungkasnya.
- See more at: http://radarpena.com/read/2013/11/26/9144/0/8/IOV-Undang-SDN-Obama-Mentas-di-Filipina#sthash.BOE6qehM.dpuf
Kamis, 26 September 2013
IOV INDONESIA YOUTH SECTION MENGIKUTI DANCE XCHANGE : THE INTERNATIONAL DANCE WORKSHOP AND FESTIVAL PUERTO PRINCESA, PALAWAN, 11-14 APRIL 2013
National Committee on Dance (NCCA) telah mengorganisir Dance Xchange : The International Dance Workshop and Festival dengan tema : “Cultural Connectivity through Dance“ yang diselenggarakan di Puerto Princesa, Palawan dari tanggal 11-14 April 2013. Festival in merupakan festival tahunan yang diselenggarakan setiap bulan April setiap tahunnya. Adapun tujuan diselenggarakannya the Dance Xchange ini adalah untuk mempererat jaringan diantara kelompok tari ASEAN dan wilayah lainnya, meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dari para penari serta merupakan tempat untuk interaksi dan pembelajaran diantara para penari.
Festival ini diikuti oleh peserta dari Inggris, Thailand, Hongkong, Indonesia, Korea Selatan, Jepang, Spanyol, Afrika Selatan dan beberapa kelompok tari dari Filipina. Indonesia diwakili oleh IOV (International Organization Volkenvurst) Indonesia Youth Section yang terdiri dari 1 orang Artisitic Director dan 10 orang penari.
Pada hari Sabtu, 13 April 2013 KBRI Manila telah mendampingi IOV Indonesia Youth Section yang mengadakan Dance Workshop VIII di City Coliseum, Puerto Princesa, Palawan dari jam 13.30 – 15.30. Dalam kesempatan ini IOV Indonesia Youth Section mengajarkan tarian Saman dari Aceh kepada kurang lebih 120 orang peserta. Workshop ini mendapatkan sambutan baik dari panitia maupun peserta karena unik, indah dan energiknya tarian ini serta mudah untuk dipelajari. Pada akhir Workshop semua peserta dapat mengikuti tarian Saman secara utuh. Pada malam harinya IOV Indonesia Youth Section mengadakan pementasan pada acara “Dance Performance” di City Coliseum dengan menampilkan tari Betawi.
Partisipasi Indonesia dalam Festival ini mendapatkan apresiasi dari National Committee on Dance sebagai penyelenggara karena dapat memperkaya khasanah tarian dunia yang ditampilkan dan diajarkan dalam festival ini.
Manila, 15 April 2013
http://www.kbrimanila.org.ph/
Selasa, 24 September 2013
Komunitas Kiss - Buat Tarian Tradisional Jadi Fresh
Akhir-akhir ini, kita sering mendengar berita mengenai warisan budaya Indonesia yang diklaim negara lain. Banyak orang berpendapat bahwa masyarakat Indonesia memang tidak peduli dengan warisan leluhurnya, terutama generasi muda.
Namun, komunitas KISS membuktikan bahwa opini tersebut salah. Kultura Indonesia Star Society atau KISS merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang peduli banget sama kelestarian musik dan tari tradisional Indonesia. Terbentuk pada Agustus 2012, komunitas ini diprakarsai oleh Steffi Stefani Sianipar, Priviliani Santoso, dan Andriesty Kusumaningrum.
Mereka adalah penari muda yang beberapa kali berpartisipasi dalam misi budaya ke luar negeri. Pengalaman tersebut membawa mereka ke dalam satu pemahaman yang sama bahwa tari dan musik tradisional Indonesia amatlah indah dan beragam, bahkan dunia pun mencintainya. Oleh karena itu, sudah saatnya bagi mereka untuk menyatakan indahnya kesenian Indonesia pada lingkungan di sekitarnya. Pada dasarnya, KISS punya tujuan menyebarkan kecintaan terhadap budaya Indonesia kepada anak muda.
Mereka ingin menyampaikan pesan bahwa warisan seni tari dan musik tradisional tidaklah “tua”, apalagi ketinggalan zaman. “Kami mencoba mengemas budaya tradisional agar sesuai dengan kondisi saat ini. Tetap fokus pada esensi tari dan musiknya, namun dipromosikan dengan fresh dan up to date agar bisa diterima di kalangan muda,” ujar Steffi, salah satu pendiri KISS. Adapun cara mereka untuk mencari anggota cukup unik.
Selain cara publikasi word of mouth, KISS membuat akun media sosial dan video yang dipublikasikan agar menarik minat orang yang melihatnya. Hasilnya, kini KISS telah memiliki banyak anggota tetap, mulai pelajar hingga para pekerja. Bahkan, banyak di antara mereka yang tidak memiliki pengalaman sebelumnya di bidang tari dan musik. Hal ini sesuai dengan prinsip mereka, yakni terbuka kepada siapa pun yang mau belajar untuk mengenal kesenian Indonesia.
Sejauh ini, kegiatan rutin yang dilakukan KISS ialah latihan rutin sebanyak dua kali seminggu. Selama latihan, para anggota mempelajari tari dan musik tradisional yang diajarkan langsung oleh koreografer dan musisi profesional. Selain itu, KISS kerap kali diundang sebagai pengisi acara di berbagai acara,seperti Jakarta Islamic Fashion Week 2013.
Pada bulan Agustus lalu, komunitas ini juga baru saja menyelenggarakan pergelaran tari yang dinamakan Benang Merah. Acara tersebut diadakan sebagai konser gelar pamit bagi para penari dan musisi yang hendak melakukan misi budaya ke Turki. Selama satu minggu, komunitas ini berpartisipasi dalam Afyonkarahisar Internantional Folk Dance Festivaldi kota Afyonkarahisar. Nah yang lebih membanggakan lagi, KISS merupakan satu-satunya perwakilan dari benua Asia di dalam festival tersebut!
“Lewat misi budaya, kita berharap untuk bisa membantu pemerintah dalam mempromosikan kesenian Indonesia ke mata dunia,” tutur Steffi. Ironisnya, dukungan dari pemerintah merupakan salah satu hal yang sulit untuk didapatkan saat misi budaya kemarin, mengingat usia komunitas ini yang baru berjalan satu tahun. Namun, hal tersebut tidak menurunkan semangat para anggota KISS untuk terus berjuang menyebarkan kesenian Indonesia.
Nah, bagi GenSINDOyang kagum dengan semangat komunitas ini, jangan ragu untuk ikut bergabung di KISS. Karena jika bukan kita yang menjaga kesenian Indonesia, siapa lagi? OLEH: ESTER CAHAYA






Senin, 23 September 2013
The International Organization of Folk Art (IOV) Youth-Asia Congress 2014 Curtin University, Sarawak
About
The International Organization of Folk Art (IOV) Youth-Asia Congress 2014
Curtin University, Sarawak
Dates: 2014-01-20 – 2012-01-26
Location: Miri, Malaysia
You are welcome to apply for the First IOV Asia Youth Congress
Description
The International Organization of Folk Art (IOV) Youth-Asia Congress 2014
Organisers:Curtin University, Sarawak - IOV Youth Asia Committee
Date: 2014-01-20 – 2014-01-26
Location: Miri, Malaysia
YOU ARE WELCOME TO APPLY FOR THE FIRST IOV YOUTH-ASIA CONGRESS:
“Tastes of Asia - A Cultural Journey”
Asian Peace through Cultural Understanding
The IOV Youth Asia is proposing the First IOV Youth-Asia Congress, which is going to take place in Sarawak, Malaysia. Folk art and culture, intangible heritage, tradition and their applications in the 21st Century are the subjects that will inspire discussions, workshops and lectures during this week-long meeting. IOV Youth are professionals and students seeking new ideas and fresh approaches to their work as teachers, arts administrators, handicraft counselors and artists. They are also amateur hobbyists and students, whose interests include storytelling, singing, weaving and dancing. IOV Youth are brought together by a shared interest in folk art. Friendships are built and networks established that will last a lifetime; and when the IOV Youth Congress concludes, IOV Youth will have a better appreciation of folk art as a tool to build bridges to cultures and people.
The 2014 Congress will focus on the issues and relationships of traditional food on life:
Intangible Cultural Heritage of Food (Traditional Cultures, Religions, Medicine, etc.)
UNESCO Mandate on the Intangible Cultural Heritage and Why We Should Protect It
Shaping a New Narrative for Globalization, Consumption and Mass Production in the Global Economy
IOV is a worldwide organization of individuals and institutions working to document, preserve, and promote all forms of folk art, both tangible and intangible.
IOV sponsors national and international folk art festivals, as well as cultural exchanges of performing artists and visual art. Through scientific and pedagogical symposia and workshops, IOV supports scholarly research, documentation, and publication on a board range of topics relating to folk art and folk culture.
The UNESCO 2003 Convention on the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage, with its emphasis on research and documentation, and the 2005 Convention on the Protection and Promotion of the Diversity of Cultural Expressions, provide the foundation for IOV programs and projects.
OFFICIAL INVITATION TO THE THIRD IOV WORLD YOUTH CONGRESS,
The International Organization of Folk Art/IOV, in consultancy relations with the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization/UNESCO is pleased to extend this Official Invitation to you to participate in The First IOV Asia Youth Congress 2014 , January 20-26, 2014.
The congress is being organized by Curtin University Sarawak with the support of the IOV Youth Asia and IOV Board
Congress theme
“Tastes of Asia - A Cultural Journey”
Participation
The congress is open to IOV Youth members between ages 18 – 35. Applicants should be passionate about folk art and desire to take part in establishing the international network - IOV Youth.
Applicants may be students, researchers, and activists, as well as young professionals and others interested in folk art and folk culture, folk art history, civil society administration and related fields. Because space is limited, conference participation will be granted to no more than one hundred youth participants. There will be an initial limit of 5 participants from each country. We will also strive for equality in gender and diversity of cultural expression.
Congress overview
January 20 - Arrival of delegates (Airport Transfers from Miri Airport)
January 21 - Formal Opening Ceremony:
- Introduction to the Congress, IOV and ICH
- Presentation of delegates from different countries, Creation of Working Groups
City sightseeing
January 22 - Plenary Session:
- Keynote Speaker
- Cluster discussions
Cultural Night
January 23 - Cluster discussions
Sarawak Province Cultural Program
Free time/ optional discussions or workshops
January 24 - Practical workshops
Free time/ optional discussions or workshops
January 25 - Food festival by various culinary schools, participants, chef, industries, etc
Open stage and Closing Ceremony
January 26 - Departure of Participants
Costs
This congress is non-profit, however a commitment fee of 100USD will be charged to successful applicant. The fees will be used to help organize the congress while any gain from it will be redirected back to IOV. Methods of payment will be sent to successful applicants.
The organizers and sponsors will cover the costs of your participation in the congress program, including local transportation, accommodations, meals and airport transfer from Miri airport on January 20th and back on January 26th. The participants will cover the cost of their international travel, visas and medical insurance.
Congress language
The congress language is English. Translation services are not provided.
Visa
To find out if you need a visa to enter Malaysia from your country, please visit the website of the Malaysian immigration: http://www.imi.gov.my/index.php/en/main-services/visa/visa-requirement-by-country.
Application
Please follow the instructions in the application form and email it to iovyac2014@student.curtin.edu.my. Please apply no later than October 31st 2013
The Congress Organizing Committee will select the final participants based on the applications. Confirmation of acceptance will be sent no later than November 15, 2013.
For more information on IOV please visit: www.iov-world.com or send an email to iovyac2014@student.curtin.edu.my
Hope to see you in Malaysia
IOV Youth-Asia Congress 2014
Rabu, 11 September 2013
KEBUDAYAAN, IDENTITAS KEBANGGAAN BANGSA
KEBUDAYAAN, IDENTITAS KEBANGGAAN BANGSA2
Posted In OUR STORIES
Salam Budaya,
Hi YEP!ers… Apa kabar di awal bulan Mei ini? Semoga tetap semangat untuk segala aktivitasnya ya.
Baiklah, dalam kesempat
an ini saya ingin berbagi dengan semua pemuda Indonesia melalui sebuah tulisan singkat mengenai kebudayaan. Tentu saja tulisan ini akan mengangkat tentang kebudayaan Indonesia. Kebudayaan yang menjadi identitas kebanggaan Indonesia.
Dear YeP!ers,
Dewasa ini, fenomena yang tengah melanda generasi muda bangsa adalah tantangan untuk melakukan filterisasi terhadap dampak globalisasi. Globalisasi membawa arus nilai budaya eksternal yang mencoba masuk ke dalam khazanah nilai budaya ke-Indonesiaan. Sebagai contoh adalah fenomena K-Pop yang membawa pencitraan nilai budaya Korea melalui tarian dan musik serta gaya hidup bagi pemuda Indonesia. Hal ini merupakan produk dari globalisasi yang memang tidak dapat dihindari. Akan tetapi hal semacam ini akan sangat disayangkan apabila mampu menggeser eksistensi budaya lokal sebagai warisan dan identitas kebanggaan bangsa.
Kebudayaan dipahami sebagai suatu sistem ide/gagasan yang dimiliki suatu masyarakat lewat proses belajar dan dijadikan acuan tingkah laku dalam kehidupan sosial bagi masyarakat tersebut[1]. Sementara menyinggung kepada konsep kebudayaan Indonesia, Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa kebudayaan nasional Indonesia adalah puncak-puncak kebudayaan daerah.[2]
Banyak sekali materi yang menjadi representasi dari apa yang dinamakan budaya. Indonesia sebagai negara majemuk dan heterogen memiliki banyak material yang dapat dikategorikan sebagai budaya bangsa. Sebagai contoh, hal sederhana yang termasuk dalam klasifikasi budaya bangsa adalah aspek kesenian. Dan tulisan ini akan memaparkan sekilas mengenai seni tari Indonesia sebagai salah satu instrumen identitas bangsa Indonesia.
Sebagai negara kepulauan, bentangan Indonesia dari Sabang hingga Merauke menghasilkan variasi kebudayaan khas yang mencitrakan identitas Indonesia sebagai bangsa yang besar. Ragam suku dan etnis merupakan sumber dari bagaimana budaya itu dihasilkan. Seperti contoh yakni berbagai macam tarian tradisional mencerminkan aspek sosial masyarakat Indonesia. Tari-tarian tradisional Indonesia merepresentasikan betapa bangsa Indonesia sangat kaya akan ragam budaya seni tari. Sebut saja dalam ragam tarian Bali. Kita mengenal banyak sekali jenis tarian Bali, bukan? Pencitraan dalam setiap tarian diwujudkan dalam konsep, kostum serta jalan cerita yang berbeda. Hal ini berlaku sama dengan ragam tarian daerah lainnya. Sehingga bukan merupakan hal berlebih apabila kita menyebut bangsa Indonesia kaya akan budaya luhur, seperti tari-tarian.
Sebagai warisan budaya bangsa, tari-tarian Indonesia menjadi identitas
bagi pengenalan Indonesia dalam kancah internasional. Dalam beberapa kesempatan, generasi muda yang mewakili Indonesia dalam kancah internasional selalu menarik perhatian publik internasional melalui ragam tarian. Mereka menyebut bahwa kekayaan Indonesia terpancar dengan jelas melalui keindahan tarian yang direpresentasikan melalui kemajemukan bentuk gerak, kostum serta jalan cerita tarian. Hal ini, khususnya masyarakat Eropa, mengakui bahwa perkenalan Indonesia melalui seni tari merupakan hal yang efektif bagi pergaulan dunia internasional. Indonesia memperlihatkan kemajemukan tarian budaya bangsa yang menarik perhatian masyarakat internasional[3].
Kemajemukan tarian Indonesia dianggap sebagai sebuah cerminan akan kebesaran Indonesia. Melalui tari-tarian pesan ke-Indonesiaan yang disampaikan ke dunia internasional dapat terakomodir dengan baik. Tari-tarian Indonesia mencerminkan kekhasan Indonesia sebagai bangsa yang agung, menjunjung keragaman dalam kesopanan dan membahasakan nilai ketimuran melalui persahabatan. Refleksi inilah yang membentuk mindset masyarakat internasional ketika menyaksikan ragam tarian Indonesia dipersembahkan.
Seharusnya begitu pula yang terjadi pada pribadi kita sebagai generasi muda bangsa. Membanggakan budaya Indonesia (tidak hanya terbatas pada tarian) sebagai investasi kekayaan bangsa. Rasanya sudah sangat adil apabila dalam sisi yang seimbang pemuda bangsa tidak hanya terpaku pada euforia nilai luar yang pada kenyataannya malah mengurangi kapasitas kebanggaan budaya lokal.
Dear Yep!ers,
Dari pemaparan di atas, menyinggung mengenai penetrasi budaya luar (dalam hal ini K-Pop) akibat produk globalisasi dengan refleksi atas pencitraan budaya lokal, sejatinya merupakan hal yang krusial bagi kita untuk kembali merenung. Mempertimbangkan kembali esensi dari warisan budaya bangsa Indonesia dimana merupakan kesempatan bagi kita sebagai generasi bangsa untuk turut melestarikan.
Tugas kita bukan hanya menikmati produk globalisasi yang bahkan malah memiliki tendensi atas pendegradasian kualitas diri bangsa. Mengingat bahwa unsur nilai budaya asing semakin gencar masuk ke Indonesia dan meruhi generasi bangsa, sudah saatnya bagi kita untuk bercermin sebagai pribadi yang berkontribusi terhadap eksistensi budaya Indonesia.
Writer:Â Fitria Ruthi Maharani (Public Relation Member of YEP!)
- See more at: http://youthempowering.org/the-stories/kebudayaan-identitas-kebanggaan-bangsa/#more-1430
Sabtu, 22 Juni 2013
INDONESIA SUMMER HEAT 2013 : KBRI ROMA oleh SMP BAKTI MULYA 400
Teriknya matahari Roma siang itu tidak menghalangi 31 anak anak SMP Bakti Mulya 400 dalam menampilkan rangkaian keindahan budaya Indonesia, dalam program misi budaya mereka ke Italia menghadiri INTERNATIONAL YOUTH FESTIVAL 2013 di Ferierre Italia. Tim misi budaya SMP Bakti Mudaya 400 singgah di Roma untuk tampil menari dalam acara INDONESIA SUMMER HEAT 2013 yang digagas oleh KBRI ROMA.
Sore itu KBRI Roma disesaki ribuan pengunjung yang akan menyaksikan tari tarian yang dibawakan untuk menghibur warga Roma. Ditampilkan dalam rangkaian acara di siang itu adalah tari Nandak Ganjen dari DKI JAKARTA, tari Kanect Putri dari Kalimatan Timur, Tari Marpangir dari Sumatra Utara, tari Indang Barandam dari Sumatra Barat, dan menjadi penutup adalah tari Ratoh Duek dari Aceh. Dalam kesempatan ini juga Duta Besar Indonesia untuk italia: Bapak August Perengkuan memberikan sertifikat penghargaan kepada siswi siswi Bakti Mulya 400 yang telah mewakili Indonesia dalam menyebarkan keindahan budaya luhur bangsa kepada dunia.
Terdiri dari 31 siswi SMP bakti Mulya 400, akan berada di Italia sejak tanggal 19 Juni hingga 5 Juli untuk tampil di beberapa kota di Italia, diantaranya: Roma, ferierre, Bettola, Bercetto, Piacenza dan Parma.
Sabtu, 15 Juni 2013
2nd INDONESIA STUDENT FOLKLORE FESTIVAL
International Student Folklore Festival yang digagas IOV Indonesia Youth section untuk kedua kalinya digelar. Ratusan pemuda dan pelajar yang tergabung dalam tim misi kebudayaan masing masing diantaranya : LONDON SCHOOL OF PUBLIC RELATION DANCE GROUP, "KENCANA PRADIPA" FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS INDONESIA, "AZKAFADA" SMA AL AZHAR KELAPA GADING, BAKTI MULYA DANCE GROUP, dan LISTRA UNIVERSITAS PARAHYANGAN membuktikan kehebatan mereka dalam berpentas tari tradisional dihadapan ribuan pasang mata undangan dan penikmat seni.
Acara yang pertama kali digagas IOV INDONESIA YOUTH SECTION tahun lalu itu berhasil membawa anak anak muda untuk terus melestarikan budaya Indonesia dan meperkenalkannya pada dunia. Sejak tahun 2010 IOV Indonesia Youth Section telah berhasil mengirimkan kurang lebih 1400 anak anak dan anak muda menuju festival kesenian internasional di seluruh dunia. Tahun ini tim IOV INDONESIA akan berangkat menuju misi kebudayaan di: Yunani, Brazil, Turki dan Italia.
Pergelaran malam itu dibuka dengan apik oleh penampilan seluruh tim yang berparade di dalam ruang pertunjukan, dilanjutkan dengan rangkaian tarian dari seluruh tim yang tampil dengan tarian dari bebagai kebudayaan nusantara.
Sabtu, 01 Juni 2013
IOV INDONESIA YOUTH looking for eligible candidate for YEOSU INTERNATIONAL YOUTH FESTIVAL KOREA
IOV INDONESIA mencari kadidat untuk mewakili Indonesia dalam Yeosu international youth culture festival
July 23 - 28, 2013
Yeosu city , Jeonranam-do , Korea
This is the OFFICIAL INVITATION to the youth members in the world to participate in the “ 13th Yeosu international youth culture festival”, which will be held in Yeosu city, Jeonranam-do, Korea. Participants should plan to arrive at the Incheon International Airport on July 22 and depart on July 29, 2013.
In accordance with the Statutes of IOV and the mandate of UNESCO, this youth culture festival will provide world youth peoples and their colleagues a venue to join together to discuss common interests, goals and plans aimed at identifying .
All of youth delegates will have the opportunity to take part in festival activities and see performances by performing art and dance & music ensembles from many nations. Yeosu city, a small city situated end of southern Korea and near the beautiful beach of Namhae is known for its extraordinary hospitality and appreciation of art and culture. You will be the guest of the city and its residents for the duration of this festival.
Participation in this congress will be limited to 15 – 23 years old.. As a delegate to the festival, you will be responsible for the following:
• Obtaining a valid passport issued by your country at least 6 months prior to your departure from your country
• International insurance
• Over weight access
In addition, delegates are asked to bring their national costume to wear during the opening and closing ceremony, and at receptions with officials of the City of Yeosu.
The Yeosu international youth culture festival organization(YIYCF), as your host for this event, is pleased to offer youth delegates the following:
• Transportation from, and return to, the Incheon International Airport
• Transportation to and from the Incheon International Airport (IIA) at your country
• Accommodations and 3 meals
• Local transportation
• An opportunity to free tour Yeosu & near the Yeosu city ,
• The opportunity to take part in other festival acitivites.
Sign up to:
Mr. ANDRIS ADHITRA
085719210068
andris_adhitra@yahoo.com
Rabu, 15 Mei 2013
IOV INDONESIA dan KOLINTANG QUARTET TAMPIL APIK DI TURKI
Alunan musik kolintang terdengar sayup sayup memanggil penduduk sekitar dan beberapa turis yang berada di area pertunjukan pagi itu . Rabu 5 Mei 2013, hari ketiga festival, grup kolintang quartet tampil tunggal bersamaan dengan dibukanya pameran buku untuk anak anak di Fethiye belediyezi Kultur Merkezi, yangmerupakan pusat kebudayaan kota Fethiye. Tak ayal ratusan anak anak dan peengunung sekitar mengeerubungi grup angklung yang telah acap kali tampil di Jakarta ini.
Grup kesenian Kolintang Quartet yang digawangi Chris Parengkuan pada melodi sekaligus ketua grup, Haydn Parengkuan pada Ukulele, Dwitya Aziza pada bass dan Hermanto pada Banjo, didampingi oleh Titiek Madjid, Erwin Gunawan sebagai fotografer dan videografer dan Andris Adhitra sebagai perwakilan IOV INDONESIA. Memenuhi undangan 6th International World Music Festival yang diselengarakan di Fethiye, Provinsi Mugla, Turki, tim kolintang tampil memukau dihadapan ratusan pasang mata. Dalam hal ini tim Kolintang Quartet membawakan beberapa lagu diantaranya Bengawan Solo, Terajana, Kopi Dangdut, dan beberapa lagu lainnya, tak hanya itu tim juga dengan apik membawakan lagu dari Turki yang terkenal yaitu Samanyolu, tak ayal penampilan ini memuat seluruh penonton ikut bernyanyi.
Selama sepuluh hari, tim Kolintang Quartet bersama dengan peserta lainnya dari Inggris, Irlandia, Georgia, Kazakstan, India, USA dan Turki tampil menghibur masyarakat sekitar, tak hanya itu tim juga memberikan workshop musik angklung sebagai salah satu alat musik khas Indonesia kepada dua sekolah di Turki. Tim juga tampil pada TV lokal dengan membawakan tari Baris dari Bali, tari piring dari Sumatera Barat dan lagu Samnyolu dengan iringan angklung yang mendapat sambutan meriah masyarakat.
World Music Festival merupakan rangkain acara dari Art Week yang diselenggarakan di Fethiye, selain musik kegiatan ini juga menampilkan pameran buku, lukisan, teater dan bentuk kesenian lainnya. Acara ini diselengraka setaipa tahunnya dengan dukungan pemerintah lokal setempat. Dibuka untuk umum sejak tanggal 2 Mei 2013, acara ini mampu mengahdirkan ribuan pengunjung yang tak hanya datang dari Fethiye,namun juga turis asing, karena Fethiye merupakan salah satu tujuan wisata utama di Turki.
Dalam festival ini tim Indonesia menjadi favorit para penonton dengan keunikan alat musik kolintang yang dibawakan. Alat musik ini dibuat dari kayu lokal yang ringan namun kuat seperti telur, bandaran,wenang, kakinik kayu cempaka, dan yang mempunyai konstruksi fiber paralel. Nama kolintang berasal dari suaranya: tong (nada rendah), ting (nada tinggi) dan tang (nada biasa). Dalam bahasa daerah, ajakan "Mari kita lakukan TONG TING TANG" adalah: " Mangemo kumolintang". Ajakan tersebut akhirnya berubah menjadi kata kolintang.
Dilaporkan : Andris Adhitra -IOV INDONESIA
Grup kesenian Kolintang Quartet yang digawangi Chris Parengkuan pada melodi sekaligus ketua grup, Haydn Parengkuan pada Ukulele, Dwitya Aziza pada bass dan Hermanto pada Banjo, didampingi oleh Titiek Madjid, Erwin Gunawan sebagai fotografer dan videografer dan Andris Adhitra sebagai perwakilan IOV INDONESIA. Memenuhi undangan 6th International World Music Festival yang diselengarakan di Fethiye, Provinsi Mugla, Turki, tim kolintang tampil memukau dihadapan ratusan pasang mata. Dalam hal ini tim Kolintang Quartet membawakan beberapa lagu diantaranya Bengawan Solo, Terajana, Kopi Dangdut, dan beberapa lagu lainnya, tak hanya itu tim juga dengan apik membawakan lagu dari Turki yang terkenal yaitu Samanyolu, tak ayal penampilan ini memuat seluruh penonton ikut bernyanyi.
Selama sepuluh hari, tim Kolintang Quartet bersama dengan peserta lainnya dari Inggris, Irlandia, Georgia, Kazakstan, India, USA dan Turki tampil menghibur masyarakat sekitar, tak hanya itu tim juga memberikan workshop musik angklung sebagai salah satu alat musik khas Indonesia kepada dua sekolah di Turki. Tim juga tampil pada TV lokal dengan membawakan tari Baris dari Bali, tari piring dari Sumatera Barat dan lagu Samnyolu dengan iringan angklung yang mendapat sambutan meriah masyarakat.
World Music Festival merupakan rangkain acara dari Art Week yang diselenggarakan di Fethiye, selain musik kegiatan ini juga menampilkan pameran buku, lukisan, teater dan bentuk kesenian lainnya. Acara ini diselengraka setaipa tahunnya dengan dukungan pemerintah lokal setempat. Dibuka untuk umum sejak tanggal 2 Mei 2013, acara ini mampu mengahdirkan ribuan pengunjung yang tak hanya datang dari Fethiye,namun juga turis asing, karena Fethiye merupakan salah satu tujuan wisata utama di Turki.
Dalam festival ini tim Indonesia menjadi favorit para penonton dengan keunikan alat musik kolintang yang dibawakan. Alat musik ini dibuat dari kayu lokal yang ringan namun kuat seperti telur, bandaran,wenang, kakinik kayu cempaka, dan yang mempunyai konstruksi fiber paralel. Nama kolintang berasal dari suaranya: tong (nada rendah), ting (nada tinggi) dan tang (nada biasa). Dalam bahasa daerah, ajakan "Mari kita lakukan TONG TING TANG" adalah: " Mangemo kumolintang". Ajakan tersebut akhirnya berubah menjadi kata kolintang.
Dilaporkan : Andris Adhitra -IOV INDONESIA
Rabu, 24 April 2013
IOV INDONESIA JOINED THE DANCE EXCHANGE PUERTA PRINCESSA PALAWAN, PHILIPPINES
An explosion of youthful energy.
Such characterized the opening ceremonies of the International Dance Xchange Festival and Workshop of the National Committee for Culture and the Arts (NCCA), held recently at the big City Coliseum of Puerto Princesa, capital of fabled Palawan.
There were 22 Filipino and eight foreign dance groups in attendance, plus over 600 participants from Luzon, Visayas and Mindanao.
The foreign performers were from England, Hong Kong, Indonesia, Japan, Spain, South Korea, South Africa and Thailand. Missed were the dancers from Malaysia and Brunei.
Happy faces at the opening ceremonies
During the opening ceremonies, one dance group after another, dressed in their formal (or “smart casual”) costumes, showcased their dancing ability to the pulsating, pounding rhythms of the Sinika and Pangkat Kalinangan bands, led respectively by good friend Nonoy Lanzanas, folk singer-songwriter, and Jovenee Sagun.
The choreography was eclectic, including ethnic, national folk, traditional, Tagbanua chants, contemporary, gymnastics, hip-hop, entomodancing (Spanish duo), powerdance, breakdance, street dance, dirty dancing and what-have-you.
The climax that morning came when the hundreds of dancers massed on the floor, fireworks were exploded, confetti rained down, and the participants gyrated around and posed for photo sessions.
Big photo op for the performers
A parade of the Filipino and foreign contingents followed in the afternoon, with the performers marching, sashaying and dancing on the streets from the provincial capitol to nearby Mendoza Park.
There, all the groups, one after the other, showcased their talents and gave a spectacular performance of their best numbers.
The Big Dance Company of England had an anti-bullying theme, while the EA and AE Dance Duo from Spain approximated the movements of animals and insects.
The energy and hi-octane movements of PowerDance and Daredevils galvanized the crowd, and contrasted with the graceful, genteel demeanor of the ballet and folk-dance groups.
The Kaaban Dance Collective from Lupon, Davao Oriental, drew oohs and aahs from the audience, and “out-bayanihan-ed” the Bayanihan with their bamboo poles and tinikling.
Another scene-stealer was the Cebu Dance Company with their Spanish-influenced ballroom-dancing duo, the woman spinning like a top.
That evening was, for me, the highlight of the four-day workshop-festival. It was a heady confluence of diverse talents and cultures, all in the name of dance.
As festival director Shirley Halili-Cruz exhorted the youths: “Keep the passion [for dance] burning.”
NCCA chairman Felipe M. de Leon Jr. concluded the event with a rousing lecture, including humorous asides, on Filipino cultural traits and on the importance of the arts.
Happy faces at the opening ceremonies
During the opening ceremonies, one dance group after another, dressed in their formal (or “smart casual”) costumes, showcased their dancing ability to the pulsating, pounding rhythms of the Sinika and Pangkat Kalinangan bands, led respectively by good friend Nonoy Lanzanas, folk singer-songwriter, and Jovenee Sagun.
The choreography was eclectic, including ethnic, national folk, traditional, Tagbanua chants, contemporary, gymnastics, hip-hop, entomodancing (Spanish duo), powerdance, breakdance, street dance, dirty dancing and what-have-you.
The climax that morning came when the hundreds of dancers massed on the floor, fireworks were exploded, confetti rained down, and the participants gyrated around and posed for photo sessions.
Big photo op for the performers
A parade of the Filipino and foreign contingents followed in the afternoon, with the performers marching, sashaying and dancing on the streets from the provincial capitol to nearby Mendoza Park.
There, all the groups, one after the other, showcased their talents and gave a spectacular performance of their best numbers.
The Big Dance Company of England had an anti-bullying theme, while the EA and AE Dance Duo from Spain approximated the movements of animals and insects.
The energy and hi-octane movements of PowerDance and Daredevils galvanized the crowd, and contrasted with the graceful, genteel demeanor of the ballet and folk-dance groups.
The Kaaban Dance Collective from Lupon, Davao Oriental, drew oohs and aahs from the audience, and “out-bayanihan-ed” the Bayanihan with their bamboo poles and tinikling.
Another scene-stealer was the Cebu Dance Company with their Spanish-influenced ballroom-dancing duo, the woman spinning like a top.
That evening was, for me, the highlight of the four-day workshop-festival. It was a heady confluence of diverse talents and cultures, all in the name of dance.
As festival director Shirley Halili-Cruz exhorted the youths: “Keep the passion [for dance] burning.”
NCCA chairman Felipe M. de Leon Jr. concluded the event with a rousing lecture, including humorous asides, on Filipino cultural traits and on the importance of the arts.
Puerto Princesa hosts int’l dance fest
MANILA, Philippines - Puerto Princesa City, led by Mayor Edward Hagedorn, will host a grand gathering of world-class performers billed as Dance Xchange: The Philippine International Dance Workshop and Festival on April 11 to 14.
Artistic director Shirley Halili-Cruz
The National Committee on Culture and the Arts (NCCA) National Committee on Dance, under the leadership of Shirley Halili-Cruz, established the annual big event five years ago.
Its 2013 edition will feature leading dance companies and experts from Japan, Hong Kong, South Africa, South Korea, Spain, England, Singapore, Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam and Taiwan. Also participating are 22 Filipino dance companies.
One of the said groups, the Halili-Cruz School of Ballet, will represent the country at the Dance Excellence USA in Los Angeles, California, from March 30 to April 7, before joining the Dance Xchange at Puerto Princesa. With its artistic director Shirley Halili-Cruz, the company won the coveted grand prize Dance Excellence trophy in the international contest participated by 50 American states, 30 countries and more than 10,000 dancers. A potential National Artist for Dance awardee, Shirley’s company has brought home top honors in several dance competitions, all over the world, in the last four years.
Meanwhile, on the welcome dinner alone of Dance Xchange, hosted by Mayor Hagedorn, more than 1,200 delegates are expected to attend.
With dance being the new and creative form of connecting people, culture and nations, Dance Xchange, one of the biggest events of the art, has proven very effective.
Only a leading tourism attraction, Puerto Princesa’s hosting the Dance Xchange will further attract more visitors to Palawan from all over the globe.
One of the highlights of the dance festivals is a tour of one of the new Seven Wonders of the World, Puerto Princesa’s underground river.
Puerto Princesa City to host International Dance Exchange
PUERTO PRINCESA CITY, Palawan, April 10 (PIA) -- The National Commission for Culture and the Arts-National Committee on Dance (NCCA-NCD), headed by Shirley Halili-Cruz, heads Dance Xchange: The Philippine International Dance Workshop and Festival, on April 11 to 14 in Puerto Princesa City.
It brings together the best dance companies and dance experts, both local and international, for a grand celebration of dance that includes activities such as artists’ forum, dance workshops to be conducted by dance directors/dancers from participating countries, masters classes, cultural tours, festival of dance performances and concerts at the Puerto Princesa City Coliseum.
Through the 4 years of its implementation, Dance Xchange has engaged many dance groups from different countries, thus, making this event truly an international cultural destination every April.
The Commission, headed by its Chairman Felipe de Leon Jr., and Executive Director Emelita Almosara, supports the organization of this country’s biggest dance spectacle in partnership with the city government of Puerto Princesa led by City Mayor Edward S. Hagedorn.
With the theme “Cultural Connectivity Through Dance,” the event aims to strengthen network among dance groups in the ASEAN and beyond; enhance knowledge and skills of the dancers, dance teachers and choreographers on dances of the different countries; showcase the unique dances of each country to enhance cultural understanding; provide venue for interaction and facilitate learning among dancers, directors, dance teachers, choreographers; and harness the potential of the Philippines to be a cultural destination in Asia.



Dance Xchange is also in celebration of International Dance Day, created under the auspices of UNESCO in Paris and held all over the world by the International Theater Institute (ITI) on April 29, and the Philippine National Dance Week, which is on the fourth week of April every year as declared by Proclamation No. 154 “to bring together dancers to demonstrate and realize the function of dance in the society and in the rest of the world.
Expected to participate are dance companies from Japan, Hong Kong, South Africa, South Korea, Spain, England, Indonesia, Singapore, Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Taiwan and Vietnam. They will be joined by 22 dance companies from all over the Philippines. Dance Xchange has been held for five years now—2009 in Dumaguete City, 2010 in Roxas City, Capiz, 2011 in Metro Manila and 2012 in Cebu City.
All PEHM teachers, PE professors and instructors, dance teachers, dancers, choreographers, cultural officers, tourism officers and festival organizers of the different local government units are invited to take part in this spectacular event. (NCCA/TBO/VSM-PIA4B)
With the theme “Cultural Connectivity Through Dance,” the event aims to strengthen network among dance groups in the ASEAN and beyond; enhance knowledge and skills of the dancers, dance teachers and choreographers on dances of the different countries; showcase the unique dances of each country to enhance cultural understanding; provide venue for interaction and facilitate learning among dancers, directors, dance teachers, choreographers; and harness the potential of the Philippines to be a cultural destination in Asia.



Dance Xchange is also in celebration of International Dance Day, created under the auspices of UNESCO in Paris and held all over the world by the International Theater Institute (ITI) on April 29, and the Philippine National Dance Week, which is on the fourth week of April every year as declared by Proclamation No. 154 “to bring together dancers to demonstrate and realize the function of dance in the society and in the rest of the world.
Expected to participate are dance companies from Japan, Hong Kong, South Africa, South Korea, Spain, England, Indonesia, Singapore, Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Taiwan and Vietnam. They will be joined by 22 dance companies from all over the Philippines. Dance Xchange has been held for five years now—2009 in Dumaguete City, 2010 in Roxas City, Capiz, 2011 in Metro Manila and 2012 in Cebu City.
All PEHM teachers, PE professors and instructors, dance teachers, dancers, choreographers, cultural officers, tourism officers and festival organizers of the different local government units are invited to take part in this spectacular event. (NCCA/TBO/VSM-PIA4B)
Senin, 11 Februari 2013
Promosi Saman dan Sabang di Utara Thailand
OLEH RIFKI FURQAN, salah satu peserta delegasi Indonesia pada Festival Folklore Internasional, melaporkan dari Surin, Thailand
TARI saman dan Sabang menjadi kata kunci penting jika kita berbicara tentang kekayaan budaya dan potensi pariwisata Aceh. Meskipun tidak terkait sama sekali dengan kegiatan promosi Visit Aceh 2013, kali ini kedua kata kunci tersebut tetap bergema di dunia internasional, tepatnya dalam rangkaian Surin International Folklore Festival (SIFF) 2013 di sebuah provinsi yang berjarak tujuh jam perjalanan darat dari Bangkok ke utara Thailand, yaitu Provinsi Surin.
Festival yang menjadi agenda rutin dari Surindra Rajabhat University ini telah memasuki tahun ke-8. Tahun ini festival yang menampilkan kebudayaan daerah khas masing-masing delegasi negara itu kembali mengundang Indonesia yang diwakili oleh Ayudha, sanggar tari dari Jakarta. Selain Indonesia, negara lain yang turut berpartisipasi antara lain Myanmar, Jepang, Korea, Sri Lanka, India, Ukraina, bahkan Israel. Ada serangkaian kegiatan dalam festival yang digelar sejak medio hingga akhir Januari 2013 itu. Pementasan tarian tradisional adalah agenda rutin yang dilaksanakan di lapangan terbuka halaman Kampus Rajabhat University, setiap malam.
Panggung berdekorasi khas Thailand dengan tata lampu yang mewah didirikan di salah satu fasilitas kampus, yaitu di kolam renang yang telah dikeringkan. Panggung seperti ini memanjakan mata penonton yang duduk menghadap ke bawah dibantu dengan layar besar.
Setiap malam, tribun penonton penuh sesak oleh campuran penduduk lokal maupun peserta dari delegasi lain yang disuguhi penampilan seni tari tradisional yang sangat menarik.
Sanggar Ayudha sebagai perwakilan delegasi Indonesia telah menyiapkan penampilan beberapa tarian tradisional untuk festival ini. Penari yang berjumlah 23 orang semua ikut menarikan saman, sementara tari Bali, tari Papua, tari zapin Melayu, tari lenggang-nya Betawi dan tarian lainnya hanya ditarikan oleh beberapa anggota sanggar saja. Saya sendiri kali ini tak ikut menari, melainkan menjadi tukang foto dan rekam ketika giliran Indonesia menyuguhkan seni tari tradisionalnya yang sangat kaya. Dan, tari saman seperti yang sudah kami duga, benar-benar menyedot perhatian penonton dengan suasana khas tiap jeda gerakannya yang lalu diakhiri dengan tepuk tangan panjang pada akhir tarian. Tarian yang disebut oleh pembawa acara sebagai a thousand hands dance (tarian seribu tangan).
Di malam terakhir sebelum para delegasi negara meninggalkan Surin, tari saman dari Indonesia diumumkan mendapat penghargaan sebagai The Most Attractive Performance (penampilan yang paling atraktif).
Hal ini pun sudah kami prediksi, melihat setiap habis menampilkan tarian ini, selain tepuk tangan meriah, para penari dengan kostum tradisional Aceh tersebut banyak diajak foto bareng oleh penonton dan peserta dari negara peserta lain. Ini tentu saja membuat saya bangga sebagai satu-satunya orang Aceh dalam delegasi Indonesia kali ini.
Masih dalam rangkaian festival tersebut, dilakukanlah seminar sehari yang menampilkan pembicara dari berbagai negara. Saya yang sama sekali tidak menari diberi tugas mewakili Indonesia dalam seminar ini. Saya merasa beruntung mendapat kesempatan bergabung dengan teman-teman lain dalam delegasi Indonesia. Karya ilmiah saya berjudul Towards Sustainable Tourism in Weh Islands diterima oleh panitia dan diberikan kesempatan selama 10 menit untuk dipresentasikan.
Seminar ini dilaksanakan dalam ruangan yang difungsikan untuk latihan teater oleh mahasiswa Rajabhat University. Luar biasanya lagi, saya mewakili delegasi Indonesia dalam forum ilmiah tersebut.
Slide presentasi banyak saya isi dengan foto tentang keindahan dan potensi pariwisata di Pulau Weh. Saya selipkan juga bahasa promosi dalam presentasi tersebut. Semoga saja dengan begitu dapat membantu perkembangan pariwisata Aceh khususnya Sabang.
Satu hal yang penting dari rangkaian kegiatan Surin International Folklore Festival ini adalah terjadinya pertukaran budaya lokal dan cerita tentang keindahan dan potensi pariwisata masing-masing negara. Indonesia, khususnya Aceh, turut berbangga karena memiliki potensi yang cukup besar. Tinggal bagaimana semua pihak, terutama pemerintah, memaksimalkan potensinya.
http://aceh.tribunnews.com/2013/02/03/promosi-saman-dan-sabang-di-utara-thailand
Selasa, 29 Januari 2013
WE SPEAK to the WORLD
Do you know that Indonesian culture is already known all over the world? Our friends from IOV Indonesia Youth Section restage their recent performance at the International Folklore Program in the U.S. George Frandsen, IOV Secretary General, Universitas Pelita Harapan and Universitas Trisakti. Watch the recorded video right here http://bit.ly/XJeMHg !
http://atamerica.or.id/video/detail/497/Presentation-Performance-We-Speak-To-the-World
Kamis, 15 November 2012
Gelar Pamit Misi Budaya SMPI Al-Ikhlas; Siap Harumkan Nama Bangsa
Menebar Prestasi
Berangkat dari rasa cinta serta kepedulian mendalam akan budaya tradisional warisan bangsa sekelompok siswa-siswi SMP Islam Al-Ikhlas terus berjuang mementaskan tari tradisional Indonesia.
Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Kabarindo- Kali ini ikut serta Festival Tari Tradisional tingkat Internasional.
Keragaman budaya tradisional Indonesia yang tersebar dari Sabang hingga Merauke menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang paling kaya akan keberagaman budaya. Namun sayangnya banyak diantara budaya asli Indonesia yang dewasa ini semakin sulit untuk ditemui. Beragam kesenian tradisional perlahan hilang tergerus modernisasi serta arus globalisasi yang terus terjadi tidak hanya di Indonesia tetapi juga seluruh dunia.
Terbelakangnya kebudayaan tradisional oleh modernisasi serta globalisasi yang semakin memprihatinkan kemudian melahirkan sebuah kesadaran. Kesadaran akan pentingnya arti kebudayaan tradisional. Kebudayaan yang menyimpan sejarah panjang, nilai-nilai kearifan setempat, serta menjadi sumber lahirnya kebudayaan nasional.
Berangkat dari kesadaran itulah upaya akan pelestarian kebudayaan tradisional terus dilakukan baik secara perorangan, kelompok, atau lembaga-lembaga sosial. Hal ini pula yang dilakukan oleh sekelompok remaja siswa-siswi SMP Islam Al-Ikhlas yang tergabung dalam ekskul tari tradisional SMP Islam Al-Ikhlas yang lebih dikenal dengan nama “Tralix”. Mereka yang tergabung dalam Tralix diajarkan untuk lebih mencintai budaya tradisional Indonesia khususnya tari tradisional dengan mempelajari serta mempraktekan tari-tarian tersebut.
Tidak hanya berhenti sampai disitu, Tralix pun telah sukses membawa tarian tradisional Indonesia memenangi beberapa Festival Tari Tradisional tingkat internasional. Seperti pada tahun 2007 silam, Tralix berhasil meraih Best Performance dalam Festival Tari Tradisional di Korea. Dengan membawakan Tari Kipah dari Aceh, Tralix pun meraih juara 1 pada Festival Kebudayaan Anak di Turki beberapa waktu lalu.
Kali ini, dengan dukungan dari IOV Youth Indonesia, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang kebudayaan dan juga bekerjasama dengan UNESCO, Tralix siap mengharumkan nama bangsa sekali lagi dalam sebuah festival tari tradisional tingkat Internasional kategori youth yang akan berlangsung di Spanyol dan Perancis.
“IOV Youth Indonesia sendiri sejak awal didirikannya sangat concernt terhadap pentingnya pelestarian kebudayaan tradisional Indonesia. Kami banyak mengirimkan duta budaya untuk menjalankan misi budaya. Salah satu misi budayanya adalah mengikuti festival-festival Internasional. Kali ini kami kembali mengajak SMP Islam Al-Ikhlas untuk turut berpartisipasi kembali karena sebelumnya kami juga sudah pernah bekerjasama. Kami memilih SMP Islam Al-Ikhlas karena kualitas performance tari nya memang bagus”, tutur Tania selaku perwakilan dari IOV Youth Indonesia.
Setelah melalui serangkaian persiapan selama 4-5 bulan, Tralix mempersembahkan sebuah pegelaran tari tradisional bertajuk “Gelar Pamit Misi Budaya SMP Islam Al-Ikhlas, Gauargi Enfans de Danses du Monde & The Festival Folclorico International Juvenvil Del Bidasoa”. Gelar pamit ini sekaligus sebagai ungkapan rasa terimakasih pada orangtua dan para sponsor yang mempunyai andil besar terhadap keberangkatan Tralix ke Festival Tari Tradisional di Spanyol dan Perancis nantinya.
Membawakan 5 tarian tradisional seperti, Tari Piring dari Sumateran Barat, Tari Giring-Giring dari Kalimantan Tengah, Trai Ratoh Duek dari Aceh, Tari Rapai Geleng dari Aceh, dan Tari Lenggang Nyai dari Jakarta, para siswa-siswi yang tergabung dalam Tralix sekaligus membuktikan kesiapan mereka menghadapi Festival Tari Tradisional di Spanyol dan Perancis yang sudah di depan mata. Kelima tarian itu pula lah yang nantinya akan dibawakan Tralix di dua Festival Tari Internasional tersebut.
Membanggakan…
Selasa, 13 November 2012
LIST OF GROUP OF IOV INDONESIA YOUTH to INTERNATIONAL FESTIVAL
Kandarpa Gunita Faculty of Medicine University of Trisakti: FOLKMOOT USA; Waynesville; North Carolina
Bireun Seudati University of Pelita Harapan : Idaho International Dance and Music Festival; Idaho, Utah, USA and Summerfest, Bountiful, USA with integrated program with Consulate General of Indonesia in San Fransisco and Los Angeles.
SD 01 MENTENG and SMP 11 : 2012 Tianjin International Children's Culture and Art Festival , Tianjin, China.
Angsana Prabala Faculty of Engineering University of Indonesia: Festival Internacional de Folclore 'Celestino Graça' - Santarém and Festival de Folclore Internacional Alto Minho; Portugal.
“AZKAFADA” SMA AL AZHAR KELAPA GADING: World Music and Dance Festival, Hakodate, Japan
SD Al Ikhlas: Grand Prix de Folklore, International Children Festival, Ribnitz Daamgarten, Germany.
SMP Al Ikhlas : International Youth Festival, Festival Internazionale dei Giovani e alla Casa Montagna – Valnure, Italy.
“Radha Sarisha” Faculty of Social and Politic University of Indonesia: Le Festival de Folklore de Jambes; Belgium; and series of Festival organize by Festival du Sud
TTA University of Paramadina: FestiMaiorca' Festival Internacional de Folclore de Maiorca; Festival Internacional de Folclore Rio; Xornadas de Folclore de Ourense; FOLKMONCAO - Festival Internacional Folclore; Festival International de Folklore Villa de Ingenio 'MUESTRA SOLIDARIA DE LOS PUEBLOS' in Portugal and Spain.
SMP Labschool Cibubur: 5th International Children Folklore Festival, Fethiye
Langganan:
Postingan (Atom)



.jpg)









.jpg)




.jpg)










