IOV Indonesia Youth Section

We travel around the globe spread the beauty of equator emerald

Minggu, 05 September 2010

Kencana Pradipa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia attended Festival Folklore Xornadas de Ourense Spain

Misi Budaya KP Tari Psikologi Posted by admin on 2010-06-22 15:34:10 Mengenalkan budaya Indonesia bisa dilakukan melalui berbagai media, salah satunya melalui tari. Itulah yang dilakukan Klub peminatan tari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (Fpsi UI), Kencana Pradipa (KP), pada Minggu (20/06) malam. Klub tari yang berdiri sejak 2006 ini mengadakan pertunjukkan tari di Gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan, Jakarta Selatan sebagai bentuk pamit kepada seluruh keluarga dan teman, karena pada tanggal 29 Juni akan terbang ke Eropa untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada dunia internasional.
KP Tari akan pergi mengunjungi tiga negara: Spanyol, Portugal dan Pulau Canary selamadua bulan. Mereka akan tampil di berbagai tempat, salah satunya Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Spanyol. Hal itu diungkapkan Pembina KP Tari, Dian Wisnuwardhani S.Psi., M.Psi. yang ditemui usai KP Tari menggelar pertunjukkan. Diakui Dian, ini kali pertama KP Tari Psikologi go international. “Ini semua berawal ketika ada sebuah LSM yang membawa video pertunjukkan KP Tari di sebuah kompetisi dan kami berhasil masuk dalam kompetisi tersebut. Itulah kenapa kami berani untuk go international di 2010 ini,” ujarnya bersemangat.
Negara Spanyol sengaja dipilih karena merupakan negara budaya dengan banyak negara dan budaya yang berkumpul di sana. Selain itu mereka memiliki waktu lebih panjang di tiga negara tersebut untuk tampil. “Sebenarnya kami juga mendapat tawaran untuk tampil juga di Perancis, namun kami tidak mengambil tawaran tersebut karena waktunya di sana tidak terlalu panjang,” tuturnya. Selama dua bulan di Eropa, ke-32 orang yang tergabung dalam KP Tari akan tinggal sementara di asrama universitas yang berada di Spanyol dan Portugal. “Mereka baru menginap di hotel ketika sudah berada di pulau Canary,” imbuhnya. Berbagai persiapan pun telah dilakukan oleh KP Tari, di antaranya kostum tari yang telah selesai dipesan, bahasa dan yang terpenting latihan mental untuk hidup di negeri orang. “Kami telah berlatih untuk bisa hidup berbagi dalam berbagai hal, salah satunya berbagi makanan. Waktu itu kami sanggup berbagai satu ekor ayam, dengan jatah nasi untuk 10 orang dan minum hanya satu galon aqua,” ujarnya memberikan contoh.
Mengenai bahasa, Dian mengaku mahasiswa Psikologi yang tergabung dalam KP Tari sudah ada yang mulai belajar bahasa Spanyol dan Portugis. Paling tidak untuk percakapan sehari-hari, bahkan kamus kedua bahasa tersebut juga telah dibeli sebagai persiapan. Pakaian pun tidak luput dari perhatian untuk disiapkan. “Setahu saya ketika kami tiba di sana, di negara-negara tersebut akan memasuki musim panas, jadi kami mengingatkan anak-anak supaya menyiapkan baju-baju berlengan panjang namun tidak terbuat dari bahan yang panas,” ujarnya. Jas hujan, sweater dan syal pun menurut Dian tetap perlu dibawa karena walaupun tergolong musim panas, anginnya tetap dingin.
Ketika disinggung mengenai biaya, ia mengaku misi budaya ini membutuhkan biaya sekitar 500 juta rupiah. Biaya ini diperoleh dari donatur, pihak sponsor dan pihak mahasiswa Psikologi yang tergabung dalam KP Tari sendiri yang membayar sekitar 12,5 juta rupiah per orang. “Kami bersyukur karena ini semua bisa terwujud atas bantuan berbagai pihak,” katanya. Menurut Dian, posisinya sebagai seorang pembina satu klub tari, tidaklah mudah. Tantangan terberat yang akan ia hadapi selama berada di Eropa yaitu bagaimana menjaga semangat dan mental mahasiswa supaya tidak luntur. Untuk itu ia membuat momen keterbukaan satu sama lain. “Melalui momen ini, saya menekankan kepada mahasiswa untuk berbagi perasaan dan mendukung satu sama lain. Jadi perasaan home sick atau rindu terhadap keluarga atau pasangan yang ada di Indonesia bisa diminimalisir,” ujarnya.
Pada malam itu, acara yang berlangsung mulai pukul 19.00 WIB, dibuka dengan penampilan band akustik, 24/7 good time. Band yang terdiri dari enam personil mahasiswi Psikologi, membawakan tiga judul lagu secara akustik: Tanah Air, Kopi Dangdut dan medley lagu Indonesia Pusaka dengan Kebyar-Kebyar. KP Tari pun kemudian langsung menyapa dengan membawakan delapan tarian tradisional Indonesia. Tarian pertama berjudul Ajeg Sari, merupakan tari kreasi baru asal Jawa Barat yang menggambarkan keceriaan juga diperlukan untuk mewarnai keseriusan hidup. Penonton merasa kagum ketika KP Tari membawakan Tari Tor-Tor Cawan, karena para penarinya membawa tiga mangkuk kecil yang terbuat dari keramik pecah belah dan meletakkannya di atas kepala mereka sambil menari. Hal tersebut tentunya tidak mudah dilakukan karena diperlukan keseimbangan untuk menjaga supaya mangkuk tersebut tidak jatuh dan pecah.Hal yang sama juga terjadi ketika KP Tari membawakan Tari Marangai Piring. Tari asal Sumatera Barat dan menggambarkan sikap ketelitian dalam mengharapkan sesuatu ini, mengharuskan penarinya untuk dengan lincah menari dengan membawa piring keramik.



Pertunjukkan ditutup dengan Tari Indang Badanyu yang merupakan perpaduan tari Padang dengan Melayu. Para hadirin pun memberikan tepuk tangan yang meriah ketika seluruh tim KP Tari keluar dari balik tirai dan memberi penghormatan. Ini menandakan KP Tari berhasil menghibur penonton. Tidak sia-sia latihan dan kerja keras yang telah dilakukan sejak enam bulan sebelumnya, karena penonton merasa puas. Selamat membawa harum nama Indonesia! (SNT)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar